Home

Saturday, February 20, 2010

Cemburu?


Tentang Epistemologi Kecemburuan-ku

Sebuah judul yang mungkin langka kita temui baik dimedia masa, elektronik, maupun buku ilmiah apapun, tetapi inilah yang sedang aku bimbangkan dan resahkan. Suatu fenomena personal dan rasa yang konon merupakan salah satu bukti adanya rasa cinta, dimana dianggap tiada rasa cinta kalau tiada rasa cemburu atau tidak ada rasa cemburu kalau tidak ada cinta. Mungkin bisa diibaratkan bila cinta tanpa cemburu, seperti makan tanpa nasi. Tapi sebenarnya bukan rasa cemburunya yang sedang kubimbangkan. Tetapi lebih dari itu,diri ini membimbangkan akan asal cemburuku? Sebenarnya dari manakah rasa itu muncul? Hati, akal, ataukah naluri?

 Sebelum membahas tentang hakikat cemburuku itu, perlu di paparkan asbabul wurudnya atau historical of reason terlebih dahulu. Rasa ini (cemburu :red) bermula dari suatu peristiwa yang sangat menarik. Mungkin lebih baiknya untuk menjaga privasi, akan ku ceritakan dalam bahasa alam yang jernih dan jelas tanpa polusi kebohongan.
Ketika itu, saat anginku, Angin Barat bertiup sepoi-sepoi dihilir dedaunan. Mendialektikakan dirinya yang semilir dalam derisan daun-daun pepohonan bringin yang rindang. Sepeti kebiasaannya, Sang Angin bertiup disekeliling istana, Istana Serba Ada. Mungkin karena disanalah Bunga Melati yang ditaksirnya berkembang indah. Selalu dengan senyum sepoi-sepoinya sang angin menyapanya, mendesirnya sehingga bunga itu menari dengan indahnya. Tetapi cukuplah bagi Sang Angin di upah dengan senyum manis Sang Melati. Memang angin tak keberatan bila Sang Bunga tak menghiraukanya desirannya. Asalkan sang bunga mekar, tak memetiknya pun tak apa. Mungkin bagi Sang Angin sepoiannya belumlah sempurna untutuk pantas memetik Sang Melati.
Suatu ketika, saat Sang Angin sedang bercanda ria dan berdendang ria dengan Sang Bunga, tiba-tiba datang Angin Selatan, entah dari mana datangnya, tiba-tiba desiranangin selatan membuat Sang Angin Barat tak bisa berdesir lagi. Memang diakui Angin Selatan juga sahabat sang bunga yang cukup akrab selain Angin Barat-Ku. Entah mengapa ketika bunga menimpali ajakan angin selatan dengan bercanda ria, menari-nari dan juga senyumnya yang dibagi dengan Angin Selatan, Sang Angin Barat tiba-tiba bertiup tak karuan dan tak tau arah, kadang berotasi kencang menjadi tornado, tetapi kadang terdiam tak bersepoi. Kadang bersiul kencang tetapi kadang menggeram diam. Entah kenapa, tetapi kata para pujangga cinta itulah yang dinamakan cemburuisme. Suatu rasa yang dikenal oleh kalangan muda dengan sebutan jealous.
Begitulah anginku adanya sekarang, menjadi tak berangin lagi. Tetapi suatu pertanyaan yang terus berotasi disekeliling pikiranku, Apakan rasacemburu ini tercipta secara natural (alamiah), maksudnya bahwa rasa cemburuku adalah dampak dari ku mencintainya. Ataukah adanya rasa Psikodramastis dalam diriku, dimana secara tidak sadar mendramatisir sesuatu peristiwa biasa menjadi sebuah adegan yang mengharukan.
Sesaat ku bermuhasabah, mencari titik kebenaran akan epistemologi kecemburuan yang sekarang ku rasa ini. Apakah tercipta secara naturalistik (alami) ataukah secara sintetistik (buatan)? Apabila secara naturalistik, berarti menurut para ahli ku merasakan cemburu karena rasa cintaku telah terintimidasi pihak ketiga. Sehingga secara dalam perspektif sebab akibatnya, ku mencintainya maka ku akan cemburu pula adanya. Bisa dirumuskan, (+cinta = -cemburu).
Sedangkan bila secara sintetistik, maka kecemburuan yang ku rasa hanya dibuat untuk melampiaskan Psikoromantik ku. Membuat suasana sok romantis seperti adegan drama-drama di TV. Ketika pasangannya ada lirikan ke yang lain, maka sesuai sekenario pasangannya harus cemburu. Sebagai sekenario tanda rasa cintanya maka dalam adegan itu menyuguhkan adegan cemburu. Mungkin secara singkatnya bisa dibilang rasa sok cemburu atau Cemburu Sintetis ( sintetis jealous). Dimana cemburu itu tidak lahir secara alamiah, tidak datang dari hati tapi datang dari dorongan luar diri, yaitu kebutuhan akan identitas (pengakuan).
Sampai detik ini ku masih bingung, apakah rasa cemburu ini sintetik ataukah alami. Meski ku sudah utarakan perasaan yang menggundahkan ini pada Sang Bunga, walau sedikit menentramkan, tetapi masih tersisa tanda tanya (?) yang semakin hari semakin besar. Memang benar apa yang dikatakan Sang Bunga pada sang angin Barat. Apakah karena rasa cinta ini, Sang Bunga harus terpenjara dalam kerangken keegoisan cinta? Apakah Sang Bunga hanya boleh tersenyum pada cintaku? Apakah terlarang Sang Bunga bersahabat dengan angin lain. Ah… betapa tololnya aku ini, bila ternyata rasa cemburuku terjadi secara natural. Bisa dikatakan ku telah terkurung dalam Egos Sentries, Sindrom yang tanpa disadari merasuk dalam derai kepemilikan. Karena kebanyakan setelah “kepemilikan” akan timbul fanatik keegoan, cemburuisme yang radikal, dan cauvunisme cinta dan seabreg ego lainnya. Sehingga bila itu adanya, Sang Melati kan layu, karena keegoisan perasaan yang kan merangkengnya. Atau angin tak akan bertiup lagi, karena hanya di haruskan bersama Sang Bunga. Hah…!!!! hanya akan saling mematikan.
Tetapi terjadi gawat darurat juga, apabila kecemburuan ku terjadi secara Sintetik. Berarti ku telah membohongi dunia dan diriku sendiri. Lebih bahayanya berarti ku terjangkit sindom romantisme sesaat. Sindrom yang bisa mengakibatkan kehidupanku sebagai suatu adegan romantis yang penuh dengan kepalsuan, kebohongan, serta kemunafikan. Memang benar apa yang dikatakan sang bunga,” Berusahalah jujur ma apa yang mas rasakan, meski tu hanya tuk diri mas sendiri. Rasa tu ga bisa dibohongi mas.”
Ah… bagai makan buah Simalakama. Ini salah tapi itupun bisa juga salah. Eh tunggu dulu, tapi buah simalakama juga ada khasiatnya lho. So what gitu lho? Seharusnya ku harus bisa mengontrol diri, sudah saatnya selain jujur pada dunia, ku juga harus bisa jujur pada diri sendiri, dan waktunya Ibda Binafsika. “Memperbaiki diri menuju kelebih-baikan”.
Manusia memang tempatnya kebingungan, tetapi dari proses kebingungan itulah manusia semakin memahami kehidupan sebenarnya. Dan sebenarnya hidup itu sungguhlah indah.” Suatu anugrah untukmu dan untukku”.

Dimozaik Subuh itu,
Sudut kamarku, 19 Febuari 2010
Arthoer el-rahman

No comments: