Kawan, hari
ini aku ingin bercerita, tentang sebuah kota. Sebuah kota yang sangat istimewa,
ya ibu kota Negara kita, Jakarta. Kota ini dulu bernama Sunda Kelapa ketika
masa kerajaan Pajajaran, kemudian berubah menjadi Jayakarta oleh Sunan Gunung
Jati, dan setelah dikuasai oleh penjajahan kota ini bernama Batavia, dan terakhir
setelah kemerdekaan kota ini bernama Jakarta sampai sekarang.
Kawan, kota
ini penuh dengan keindahan bangunannya. Dipusat kota ada obelisk Monas dan Masjid
super agung Istiqlal. Di selatan ada patung Pancoran, patuh seorang manusia
yang ingin terbang menggapai cita-cita. Disebelah utara ada Kota Tua, kota
peninggalan Belanda. Kota yang penuh dengan bangunan-bangunan kuno. Disana ada
museum Fatahillah, sebagai pengingat akan hebatnya seorang Fatahillah merebut Sunda Kelapa dari
Pajajaran
Namun
dibalik dinding-dinding bangunan yang megah, terdapat jiwa-jiwa yang rapuh-rentah.
Manusia yang hidup di kota ini hidup dalam jiwa yang tergadaikan. Tergadaikan
oleh kegengsian dan kehedonisan. Mereka
lebih memilih terlihat “wah”, daripada hidup seadanya. Kawan inilah
manusia-manusia yang rapuh, ketika diterjang masalah, maka apalagi sandaran
jiwa yang tersisa.
Dikota ini
mulut-mulut manusianya penuh dengan lumpur kegosipan. Tak ada yang lebih
menarik daripada menggosipkan keburukan orang lain, bahkan tetangga sendiri.
Gosip adalah menu pokok untuk menghidupkan suasana. Rasanya tak afdol kalau
belum menggosipkan kejelekan orang lain.
Kawan , kota
inipun penuh dengan tawa dan canda anak-anak. Namun tawa mereka adalah tangisan
hati nurani, dan canda mereka adalah murka akan kehilangan jiwa. Anak-anak kota
ini dewasa sebelum waktunya. Mereka telah bergaul dengan macam-macam
kedewasaan. Kedewasaan mereka ibarat buah yang dikarbit. Kedewasaaan buatan. Buatan
dari lingkungan yang memaksa mereka untuk dewasa. Bukannya bagus bila mereka
dewasa dengan cepat? Ya bagus, secara jangka pendek. Namun bila sampai
waktunya, sampai pada titik jenuh, yaitu ketika umur lebih dari 17, yang secara
normal inilah masa pertumbuhan kedewasaan. Tapi untuk anak kota, inilah titik
jenuh dimana mereka akan flash back, mengubah kedewasaannya menjadi
keacuhan, ketidakingintahuan, unsosial, atau menjadi jalan pembeda daripada
yang umumnya.
Kawan, kota ini penuh dengan warna. Warna-warna
kehidupan ada disini. Sehingga makanan khas kota inipun bernama gado-gado, yang
artinya campur-campur. Namun disini ada warna yang begitu dominan dari warna
lain, yaitu warna kesenjangan. Kesenjangan antara yang mampu yang tidak mampu.
Sehingga bagi yang mampu dapat menganjingkan orang yang tak mampu. Yang
tak mampu pun rela asalkan diberi tulang (uang)
Ku tak
hendak untuk menggunjingin ibu kota kita. Tapi ini adalah sebuah ungkapan akan
hingar bingarnya kota ini. Ibu kota adalah cerminan dari bangsa ini. ibu kota
adalah kota percontohan bagi kota-kota yang lain. Jangan biarkan negeri ini
menjadi negeri tanpa hati. Yang lebih menjunjung materi dari pada harga diri.

No comments:
Post a Comment