Home

Sunday, October 19, 2014

Jakarta, Ibu Tiri Negara

Kawan, hari ini aku ingin bercerita, tentang sebuah kota. Sebuah kota yang sangat istimewa, ya ibu kota Negara kita, Jakarta. Kota ini dulu bernama Sunda Kelapa ketika masa kerajaan Pajajaran, kemudian berubah menjadi Jayakarta oleh Sunan Gunung Jati, dan setelah dikuasai oleh penjajahan kota ini bernama Batavia, dan terakhir setelah kemerdekaan kota ini bernama Jakarta sampai sekarang. 

Kawan, kota ini penuh dengan keindahan bangunannya. Dipusat kota ada obelisk Monas dan Masjid super agung Istiqlal. Di selatan ada patung Pancoran, patuh seorang manusia yang ingin terbang menggapai cita-cita. Disebelah utara ada Kota Tua, kota peninggalan Belanda. Kota yang penuh dengan bangunan-bangunan kuno. Disana ada museum Fatahillah, sebagai pengingat akan hebatnya  seorang Fatahillah merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran

Namun dibalik dinding-dinding bangunan yang megah, terdapat jiwa-jiwa yang rapuh-rentah. Manusia yang hidup di kota ini hidup dalam jiwa yang tergadaikan. Tergadaikan oleh kegengsian dan kehedonisan.  Mereka lebih memilih terlihat “wah”, daripada hidup seadanya. Kawan inilah manusia-manusia yang rapuh, ketika diterjang masalah, maka apalagi sandaran jiwa yang tersisa. 

Dikota ini mulut-mulut manusianya penuh dengan lumpur kegosipan. Tak ada yang lebih menarik daripada menggosipkan keburukan orang lain, bahkan tetangga sendiri. Gosip adalah menu pokok untuk menghidupkan suasana. Rasanya tak afdol kalau belum menggosipkan kejelekan orang lain. 

Kawan , kota inipun penuh dengan tawa dan canda anak-anak. Namun tawa mereka adalah tangisan hati nurani, dan canda mereka adalah murka akan kehilangan jiwa. Anak-anak kota ini dewasa sebelum waktunya. Mereka telah bergaul dengan macam-macam kedewasaan. Kedewasaan mereka ibarat buah yang dikarbit. Kedewasaaan buatan. Buatan dari lingkungan yang memaksa mereka untuk dewasa. Bukannya bagus bila mereka dewasa dengan cepat? Ya bagus, secara jangka pendek. Namun bila sampai waktunya, sampai pada titik jenuh, yaitu ketika umur lebih dari 17, yang secara normal inilah masa pertumbuhan kedewasaan. Tapi untuk anak kota, inilah titik jenuh dimana mereka akan flash back, mengubah kedewasaannya menjadi keacuhan, ketidakingintahuan, unsosial, atau menjadi jalan pembeda daripada yang umumnya.

Kawan,  kota ini penuh dengan warna. Warna-warna kehidupan ada disini. Sehingga makanan khas kota inipun bernama gado-gado, yang artinya campur-campur. Namun disini ada warna yang begitu dominan dari warna lain, yaitu warna kesenjangan. Kesenjangan antara yang mampu yang tidak mampu. Sehingga bagi yang mampu dapat menganjingkan orang yang tak mampu. Yang tak mampu pun rela asalkan diberi tulang (uang)

Ku tak hendak untuk menggunjingin ibu kota kita. Tapi ini adalah sebuah ungkapan akan hingar bingarnya kota ini. Ibu kota adalah cerminan dari bangsa ini. ibu kota adalah kota percontohan bagi kota-kota yang lain. Jangan biarkan negeri ini menjadi negeri tanpa hati. Yang lebih menjunjung materi dari pada harga diri.

No comments: